translate

Showing posts with label sejarah. Show all posts
Showing posts with label sejarah. Show all posts

Thursday, November 10, 2022

Debus Sunda Buhun Karawang

Debus , Mungkin sebagian dari warga masyarakat sudah tidak asing
lagi mendengar kata debus dengan atraksi atraksi ekstrim dari
mulai atraksi ular, atraksi silat darah dan lain sebagainya, sama
halnya dengan debus sunda buhun karawang, yang menampilkan
atraksi atraksi extrim tersebut

debus sendiri merupakan kesenian tradisional dari provinsi jawa barat,
dimana dalam atraksi tersebut menampilkan atraksi kekebalan tubuh
manusia dari berbagai macam benda tajam.

Sepi Hardiwijaya atau biasa di panggil Sobrot Sunda Buhun dan anggota padepokan sunda buhun karawang lainnya adalah salah satu dari sekian banyak penggiat seni debus, yang sampai saat ini
masih melestarikan kesenian tradisional tersebut.

Dalam atraksi debus itu sendiri tidak hanya menampilkan bagaimana kebalnya tubuh manusia
di sayat oleh senjata tajam, tetapi juga ada beberapa seni tari dan kebatinan yang memang
bernuansa magis,

di padepokan sunda buhun sendiri debus bukan hanya dimainkan oleh orang dewasa
tapi mereka juga mendidik anak anak untuk menjadi penerus pelestari seni debus tersebut.

"kami mengajarkan anak anak untuk bermain debus, bukan untuk menyombongkan diri
tapi kami didik mereka agar bisa melestarikan  debus sehingga tidak punah dan bisa meregenerasi,"ujar sobrot selaku ketua padepokan.

tentu tidak semua orang bisa melakukan debus, untuk bisa menguasai dan melakukan atraksi debus
seseorang harus mempunyai komitmen dan sikap istiqomah dalam belajar dan  melakukannya" kata H Tata Sumarna Sesepuh sekaligus pendiri padepokan sunda buhun karawang.








 

Sunday, October 25, 2015

ARTIKEL TENTANG KISAH UMAR BIN KHATTAB KEMBALI KEPADA ISLAM

Kisah Masuk Islam-nya Umar bin Khattab RA

Umar bin Khattab ra terkenal sebagai orang yang berwatak keras dan bertubuh tegap. Sering kali pada awalnya (sebelum masuk Islam) kaum muslimin mendapatkan perlakukan kasar darinya. Sebenarnya di dalam hati Umar sering berkecamuk perasaan-perasaan yang berlawanan, antara pengagungannya terhadap ajaran nenek moyang, kesenangan terhadap hiburan dan mabuk-mabukan dengan kekagumannya terhadap ketabahan kaum muslimin serta bisikan hatinya bahwa boleh jadi apa yang dibawa oleh Islam itu lebih mulia dan lebih baik.

Sunday, December 11, 2011

Tugu Pangkal Perjuangan karawang

DI INDONESIA BANYAK SEKALI TUGU – TUGU PENINGGALAN SEJARAH,DI ANTARANYA Tugu Proklamasi di Jakarta,tugu pahlawan di Surabaya,tugu pancasila di lubang buaya,tugu muda di semarang dan tugu pangkal perjuangan di karawang.yang merupakan slah satu monument kebanggaan kota karawang.

Monday, October 24, 2011

PERTEMPURAN AMBARAWA

Pertempuran Ambarawa berlangsung empat hari, dari 13-15 Desember 1945. Semangat juang pasukan TKR menjadi penentu kemenangan dalam melawan musuh.
Awal Pertempuran
Perjuangan Tentara Keamanan Rakyat (TKR) yang dipimpin Jenderal Soedirman pada pertengahan Desember 1945, membuat tentara sekutu terjepit dan akhirnya mundur dari Ambarawa menuju Semarang. Walaupun dihadang dengan seluruh kekuatan persenjataan modern serta kemampuan taktik dan strategi sekutu, para pejuang RI tak pernah gentar sedikitpun. Mereka melancarkan serangan dengan gigih seraya melakukan pengepungan ketat di semua penjuru kota Ambarawa. Dengan gerakan pengepungan rangkap ini sekutu benar-benar terkurung dan kewalahan.

PERTEMPURAN SURABAYA

PERTEMPURAN SURABAYA
Pertempuran Surabaya merupakan peristiwa sejarah perang antara pihak tentara Indonesia dan pasukan Belanda. Peristiwa besar ini terjadi pada tanggal 10 November 1945 di Kota Surabaya, Jawa Timur. Pertempuran ini adalah perang pertama pasukan Indonesia dengan pasukan asing setelah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia dan satu pertempuran terbesar dan terberat dalam sejarah Revolusi Nasional Indonesia yang menjadi simbol nasional atas perlawanan Indonesia terhadap kolonialisme. [2]
Kronologi penyebab peristiwa

Thursday, September 15, 2011

asal mula kota karawang

Pada zaman Kerajaan Padjadjaran yang dipimpin oleh Sri Baduga Maharaja, Karawang merupakan salah satu daerah kekuasaan dari Pajajaran. Daerah ini merupakan kota Pelabuhan di tepi Sungai Citarum. Penyebutaan Karawang berasal dari kata ‘Karawaan’ yang mengandung arti bahwa daerah ini banyak terdapat rawa. Hal ini dibuktikan dengan banyaknya daerah yang menggunakan kata rawa di depannya seperti, Rawa Gabus, Rawa Monyet, dan Rawa Merta.
Penduduk Karawang semula beragama Hindu. Semenjak takluk dan berada di bawah Kesultanan Banten, masyarakat Karawang berpindah keyakinan ke Agama Islam. Hal ini terjadi setelah Syekh Hasanudin bin Yusuf Idofi, yang terkenal dengan sebutan “Syekh Quro”, datang dan menetap di Karawang untuk  mengajarkan agama Islam dan membaca Al-Qur’an.

Thursday, May 26, 2011

peninggalan sejarah agama budha

contoh beberapa bangunan sejarah peninggalan agama budha



dan kalo sahabat ingin lebih jelas silahkan buka link di bawah ini..


bangunan sejarah peninggalan agama budha

ZAMAN NEOLOTIKUM

                                                 



                                  ZAMAN NEOLITIKUM
                              EDITING BY : 














Gambar 5. Tabel hasil kebudayaan Neolitikum













Gambar 6. Reruntuhan rumah hasil peninggalan Zaman Neolitikum






Gambar 8. Salah satu hasil gerabah zaman Neolitikum








Gambar 9. Guci yang ditemukan di situs Buni, diperkirakan peninggalan zaman Neolitikum








Gambar 10. Dizaman Neolitikum guci seperti ini
digunakan untuk menyimpan tulang belulang










Gambar 1. Ini adalah gambar dari kapak persegi yang sudah memiliki gagang







Gambar 2. Kapak lonjong yang gunanya untuk memahat






Gambar 3
Kapak lonjong
















Gambar 4. Kapak persegi

Sunday, May 8, 2011

sejarah candi jiwa


Indonesia adalah Negara yang terdiri dari berbagai pulau. Sejarah Indonesia pun beragam dari jaman kerajaan hingga jaman kolonial. Kini sebuah kebudayaan dan peninggalan sejarah kembali ditemukan.
Candi jiwa merupakan candi terbesar di Indonesia dan bahkan lebih besar ketimbang candi Borobudur. Candi Jiwa merupakan sebuah candi yang belum lama terungkap dan masih dalam tahap penelitian. Usia Candi Jiwa bahkan lebih tua dari candi-candi besar yang ada di Indonesia.

Candi Jiwa terletak di Desa Segaran, Batujaya. Batujaya adalah sebuah desa di tepi Sungai Citarum, sekitar 20 km di sebelah barat laut kota Rengasdengklok, Kabupaten Karawang. Batujaya hanya 20 km dari Ujung Karawang tempat bermuaranya Sungai Citarum di Laut Jawa yang membentuk delta. Keberadaan sungai ini memiliki pengaruh yang sangat besar terhadap keadaan situs sekarang karena tanah di daerah ini tidak pernah kering sepanjang tahun, baik pada musim kemarau ataupun pad musim hujan.  Sekitar 25 km ke sebelah timur, terdapat kampung Cibuaya, sebuah kampung yang di kalangan para ahli arkeologi terkenal sebab di dalamnya terdapat situs Cibuaya yang menyingkapkan artefak-artefak penting pra-sejarah (Neolitikum) Jawa Barat dan Indonesia. Cibuaya terletak 5 km dari tepi pantai. Dulu, mungkin Batujaya dan Cibuaya terletak di tepi pantai, sedimentasi kuarter di wilayah ini sangat aktif. Luas situs Batujaya ini diperkirakan sekitar lima km2. Situs ini terletak di tengah-tengah daerah pesawahan dan sebagian di dekat pemukiman penduduk dan tidak berada jauh dari garis pantai utara Jawa Barat (pantai Ujung Karawang). Lokasi percandian ini jika ditempuh menggunakan kendaraan sendiri dan datang dari Jakarta, dapat dicapai dengan mengambil jalan Tol Cikampek. Keluar dari gerbang tol Karawang Barat dan mengambil jurusan Rengasdengklok. Selanjutnya mengambil jalan ke arah Batujaya di suatu persimpangan. Walaupun jika ditarik garis lurus hanya berjarak sekitar 50 km dari Jakarta, waktu tempuh dapat mencapi 3 jam karena kondisi jalan yang ada.
Situs Batujaya terletak di lokasi yang relatif berdekatan dengan Situs Cibuaya (sekitar 15 km di arah timur laut), yang merupakan peninggalan bangunan Hindu, dan situs temaun pra-Hindu “Kebudayaan Buni” yang diperkirakan berasal dari masa abad pertama Masehi. Kenyataan ini seakan-akan mendukung tulisan Fa Hsien yang menyatakan:”Di Ye-po-ti (Taruma, maksudnya Kerajaan Taruma) jarang ditemukan penganut Buddhisme, tetapi banyaj dijumpai brahmana dan orang-orang beragama kotor”.
Situs Batujaya pertama kali ditemukan oleh tim arkeologi Fakultas Sastra Universitas Indonesia (sekarang disebut Fakultas Ilmu Budaya UI) pada tahun 1984. Semenjak awal penelitian dari tahun 1985 sampai dengan tahun 1999, ditemukan tidak kurang dari 13 situs di Desa Segaran dan 11 situs di Tegaljaya. Sehingga secara total ada 24 buah situs di kawasan ini. Semenjak awal penelitian dari tahun 1992 sampai dengan tahun 2006 telah ditemukan 31 tapak situs sisa-sisa bangunan. Penamaan tapak-tapak itu mengikuti nama desa tempat suatu tapak berlokasi, seperti Segaran 1, Segaran 2, Telagajaya 1, Telagajaya 2, dan seterusnya. 
Menurut informasi yang dikumpulkan dari berbagai sumber, kompleks Percandian Batujaya adalah sebuah suatu kompleks sisa-sisa Percandian Buddha Kuno yang terletak di Kecamatan Batujaya dan Kecamatan Pakisaya. Situs ini disebut percandian karena terdiri dari sekumpulan candi yang tersebar di beberapa titik.
Batujaya sekarang terletak di tengah hamparan sawah. Telah 22 tahun situs ini digali dan dipelajari para ahli arkeologi Indonesia dan mancanegara. Situs ini pertama kali diketahui tahun 1984, semula berupa bukit-bukit kecil di tengah sawah, penduduk setempat menyebutnya unur-unur (bukit-bukit kecil). Sekarang tak ada lagi bukit-bukit tetapi candi-candi hasil rekonstruksi dan lubang-lubang parit dan terbuka galian para arkeologis.
Hasan Djafar, ahli arkeologi UI, kepala tim penggalian situs Batujaya, menerangkan dengan runtut penemuan situs ini. Penggalian yang telah berlangsung selama 22 tahun ini telah menghasilkan banyak penemuan artefak: bongkah-bongkah bata merah yang kemudian bisa direkonstruksi menjadi candi-candi yang cukup besar, tembikar-tembikar, manik-manik, tablet-tablet tanah liat dan yang mengejutkan dan baru ditemukan tahun 2006 ini (terutama Juli 2006) adalah penemuan puluhan kerangka manusia yang masih utuh dari tengkorak sampai tapak kaki. Dua orang perempuan ahli arkeologi berkebangsaan Perancis dan Belanda khusus datang ke situs ini untuk mengekskavasi kerangka-kerangka di situs Batujaya, mengambil beberapa sampel tulang dan gigi dan akan melakukan penelitian DNA atas fosil tulang dan gigi guna mendapatkan data karakteristik ragawi yang lebih lengkap. Metode terbaru dalam arkeologi adalah bahwa pengambilan specimen fosil suatu ras manusia harus dilakukan oleh arkeologi dari ras yang berlainan. Mungkin, ini untuk menghindarkan kontaminasi saat mengambil sampel. Karena kerangka manusia di Batujaya diperkirakan dari ras Indonesia, yaitu Mongoloid, maka yang mengambil sampel adalah orang-orang dari ras Eropa (Kaukasoid). Penelitian lebih dari 20 tahun ini tentu telah menghasilkan beberapa kesimpulan sementara, yaitu:
1. Situs ini berumur di ambang pra-sejarah dan sejahrah Indonesia (abad ke-4 dan ke-5 Masehi, saat ini batas pra-sejarah dan sejarah Indonesia adalah tahun 400 Masehi).
2.  Candi Batujaya terbuat dari bata merah dan mempunyai ciri-ciri candi Buddha
3. Tembikar dan manik-manik yang ditemukan adalah dari masa Neolitikum
4. votive tables (semacam meterai) dari tanah liat bakar bertuliskan tulis pendek dalam aksara Pallawa.

Implikasi penemuan situs Batujaya ini sangat penting bagi perkembangan kepurbakalaan Indonesia, Jawa khususnya. Situs di pinggir Citarum ini menunjukkan masyarakat purbakala Indonesia telah cukup terorganisasi dan siap untuk meningkatkan peradaban. Keberadaan candi meruntuhkan mitos bahwa di Jawa Barat tidak ada candi lain selain Candi Cangkuang (Candi Siwa) di Leles Garut. Candi Batujaya justru adalah candi yang paling tua di tanah Jawa yang berasal dari abad ke-4 atau ke-5. Juga, Candi Batujaya ini meruntuhkan mitos bahwa candi-candi yang berumur lebih muda lah yang dibangun dari bata merah setelah candi yang lebih tua dibangun dari batuan gunung (andesitik)(model candi Jawa Tengah ke Jawa Timur). Aksara di tablet-tablet tanah liat yang ditemukan di Batujaya sama dengan aksara yang dipakai pada prasasti-prasasti Tarumanegara yang ditemukan lebih tersebar di daerah Jawa Barat. Bagaimana hubungan Batujaya dengan Tarumanegara dan juga kerajaan-kerajaan Sunda sesudahnya (Galuh, Sunda, Pajajaran). Penaggalan absolut dan posisi stratigrafik situs Batujaya dan situs-situs lainnya di Jawa Barat akan menjawab hal ini. Bagaimana pula hubungannya dengan pengaruh pedagang-pedagang India beragama Hindu dan Buddha adalah persoalan tersendiri yang harus dijawab. Penggalian dan penelitian di Situs Batujaya masih terus berlangsung, analisis labolatorium atas sampel-sampel artefak dan fosil dari Batujaya masih terus dilakukan. Data hasil analisis DNA pada kerangka-kerangka manusia yang ditemukan di situs ini nanti akan mengungkapkan banyak fakta. Semoga dalam waktu yang tidak terlalu lama, kita akan dapat mendengar hasilnya. Situs Batujaya begitu pentingnya buat prasejarah dan awal sejarah Bangsa Indonesia. Dan, situs Batujaya menghadirkan artefak dan kerangka manusia yang begitu lengkapnya, tak pernah dalam sejarah arkeologi ditemukan artefak dan kerangka manusia pembuatnya dalam satu tempat secara sangat lengkap. Tetapi, penelitian arkeologi di situs Batujaya harus berdampingan dengan kepentingan ekonomi pesawahan Karawang sebagai lumbung padi nasional, dan rencana Pertamina dalam mengembangkan penemuan minyak di Pondok Tengah. Mungkin, tumpang-tindih lahan penelitian lahan dan kepentingan ekonomi kelak akan terjadi. Secara ekonomi, Situs Batujaya bisa saja dianggap tak menguntungkan, namun dilihat dari sudut kebutuhan memperkuat jati diri bangsa, maka sejarah bangsa yang jelas terbaca adalah sebuah modal pokok untuk berjati diri. Bangsa yang dihapus sejarahnya akan menjadi bangsa yang tidak percaya diri, yang dengan mudah akan dijadikan sasaran dominasi negara lain. Siapa tahu Situs Batujaya kelak mengungkapkan bahwa bangsa Indonesia adalah bangsa yang telah berbudaya tinggi sejak zaman pra-sejarah.   
Lokasi Candi Jiwa dikelilingi oleh persawahan yang luas. Candi ini terbentuk dari batu bata merah dan berbentuk persegi. Menurut sumber, digunakannya batu bat adalah karena sukarnya mendapatkan batu andesit di sekitar candi. Tak jauh dari lokasi Candi Jiwa berada, terdapat Candi Blandongan.

Menurut warga setempat, keberadaan candi di daerah mereka merupakan suatu hal yang istimewa. Selain menjadi situs bersejarah, kehadiran candi tersebut dapat membawa peruntungan bagi masyarakat sekitar. Pada tanggal 31 Mei kemarin, Candi Jiwa menjadi lokasi diadakannya Trisuci Waisak 2553 BE / 2009 oleh umat Buddha.
Setidaknya sebuah peninggalan sejarah kembali hadir dan semoga kehadirannya tidak singkat ditelan jaman modern yang tengah menjamah masyarakat Indonesia kini. Situs dan peninggalan sejarah yang ditemukan mengingatkan kembali darimana negeri ini muncul dengan segala keberlakuannya.




   


biografi RA kartini (bahasa sunda )

Biografi RA Kartini
Nami : Raden Ajeng Kartini
Lahir : Jepara, Jawa Tengah, tanggal 21 April 1879
Pupus : Tanggal 17 September 1904, (waktos babaran putera cikalna)
Pendidikan : E.L.S. (Europese Lagere School), satingkat sareng SD
Caroge : Raden Adipati Joyodiningrat, Bupati Rembang
Prestasi :
- Ngadegkeun sakola pikeun wanoja di Jepara
- Ngadegkeun sakola pikeun wanoja di Rembang
Kempelan serat-serat:  Door Duisternis tot Licht (Habis Gelap Terbitlah Terang).
Penghormatan  :
- Gelar Pahlawan Kemerdekaan Nasional
- Dinten Babarna tanggal 21 April ditetapkan mangrupi dinten besar
Sumber:
- Album Pahlawan Bangsa Cetakan ke 18, penerbit PT Mutiara Sumber Widya
- Wajah-Wajah Nasional cetakan pertama. Karangan: Solichin Salam
Raden Ajeng Kartini (1879-1904)
Pejuang Kamajengan Wanoja
Door Duistermis tox Licht, Habis Gelap Terbitlah Terang, nyaeta judul buku tina tina kempelan serat-serat Raden Ajeng Kartini nu kakoncara. Serat-serat nu diseratkeun kangge sobat-sobatna di nagara Belanda eta saterasna janten bukti sakumaha ageungna kahoyong tina Kartini pikeun ngaleupaskeun kaumna tina diskriminasi nu geus ngabudaya waktos zamanna.
Buku eta janten ngahudanggkeun sumanget para wanoja Indonesia dina merjuangkeun hak-hakna. Perjuangan Kartini teu ukur diserat di luhur kertas tapi dibuktoskeun ku ngadegkeun sakola gratis pikeun anak gadis di Jepara sareng Rembang.
Waktos eta, Raden Ajeng Kartini nu lahir di Jepara, Jawa Tengah tanggal 21 April 1879, saleresna estu mihoyong tiasa ngagaduhan pendidikan nu langkung luhur, mung mangrupina kabiasaan sareng waktos harita, ngajantenkeun anjeunna henteu diwidian  ku sepuhna.
Anjeunna mung sakola dugi ka E.L.S. (Europese Lagere School) atanapi satingkat tingkat sareng sakola dasar. Tamat  E.L.S, Kartini teras dipingit mangrupi  kabiasaan atanapi adat-istiadat nu lumrah di tempat babarna dimana hiji wanoja atos rengse namatkan sakola di tingkat sakola dasar, kedah ngajalankeun masa pingitan dugi ka waktosna pikeun rimbitan.
Mayunan eta kanyataan, Kartini rumaja nu loba campur gaul sareng jalmi-jalmi terpelajar tur seneng maos buku khususna buku-buku ngeunaan kamajengan wanoja wanoja sapertos karya-karya Multatuli “Max Havelaar” sareng karya tokoh-tokoh pejuang wanoja di Eropa.
Ti kawit harita, anjeunna gaduh kahoyong sareng tekad nu kuat kangge kangge ngamajukeun  sakola kangge ngamajukeun wanoja wanoja bangsa Indonesia. Sareng ngalengkah   kangge ngamajukeun kaum wanoja nyaeta kucara ningkatkeun tarap pendidikan para wanoja. Pikeun ngarealisasikeun cita-citana eta, anjeunna anjeunna ngawitan ku ngadegkeun sakola kangge anak gadis di daerah babarna, Jepara. Di eta sakola anjeunna ngajarkan palajaran ngaput, nyulam, masak, sareng rupi-rupi. Sadaya katerampilan didugikeun ka murid-muridna kalayan garatis.
malah kangge ngawujudkeun cita-citana, anjeunna ngalajeungkeun ka Sakola Guru di Nagara Belanda ,maksadna supados anjeunna tiasa janten guru nu langkung tinuwih.  Kalayan dukungan ti rerencanganna urang Walanda, Nyi Ajeng Kartini kenging beasiswa kangge ngalajengkeun sakola di nagara Walanda. Tapi, ramana,  Raden Adipati Joyodiningrat, Bupati di Rembang, teu ngawidian anjeunna. Malah ramana ngahalangan tekadna ku cara maksa RA Kartini supados rimbitan.
Sanaos seueur halangan harungan nu ngajegal cita-citana, tapi RA Kartini teu kateter tekadna. Saatos atos nikah, anjeunna masih ngadegkeun sakola di Rembang salian sakola di Jepara nu atos didirikeun sateuacan rimbitan. Naon anu dipidammel anjeunna janten conto nu saterasna diturutan ku wanoja-wanoja lainna ku ngadegkeun ‘Sakola Kartini’ di tempat masing-masing sepertos di Semarang, Surabaya, Yogyakarta, Malang, Madiun, sareng Cirebon.
Naon  nu atos dipilaku  RA Kartini estu langkung Seueur pangaruhna kangge anjeunna kebangkitan bangsa urang. Mingking bakal langkung ageung sareng langkung seueur nu dipilaku ku anjeunna kangge kamajuan wanoja Indonesia, pami Allah masihan yuswa nu langkung lami. Mung Allah mikahoyong sanes, anjeunna pupus dina yuswa masih ngora keneh, 25 taun,  tanggal 17 September 1904, waktos ngalahirkeun putera cikalna.
Ngemutkeun ageungna jasa Kartini netepkeun kangge bangsa urang nya atas nami nagara, pamarentahan Presiden Soekarno, Presiden Mimiti Republik Indonesia ngawedalkeun Keputusan Presiden Republik Indonesia No.108 Tahun 1964, tanggal 2 Mei 1964 nu netepkeun Kartini mangrupi Pahlawan Kemerdekaan Nasional tur netepkeun dinten lahir Kartini, tanggal 21 April, pikeun dipikaemut unggal taun nu saterasna dikenal mangrupi Dinten Kartini.

Resep kana lebah naona hideup ka eta tokoh :
Ku margi anjeuna 1 wanoja nu tiasa nyandak ka majuan kangge wanoja bangsa Indonesia
Supados janten tiasa saderajat sareng nu lian.

Kumaha sikap hideup ningal ka unggulan /kamampuan tokoh nu di pika meumeut :

Bangga ku naon nu tos di pidameul anjeuna pikeun kamajuan kaum wanoja Indonesia






Cari Artikel

 

Copyright @ 2015